Author name: admin_mCgo

Pergerakan Harga Emas Hari Ini ke US$1.900, Angin Segar Inflasi AS

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas acuan global berpotensi terus melanjutkan penguatan pada hari ini tersengat sentimen data inflasi AS.

Tim analis Monex Investindo Futures memaparkan sentimen melemahnya dolar AS usai perilisan data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) AS yang hasilnya lebih rendah dari estimasi meningkatkan keyakinan pasar untuk kenaikan suku bunga yang lebih rendah dari Federal Reserve AS di masa depan. Kondisi ini berpeluang menopang harga emas.

“Pada perdagangan hari ini harga emas berpeluang dibeli untuk menguji level resistance US$1.904 per troy ounce selama harga bertahan di atas level support US$1.894 per troy ounce,” tulis Monex dalam riset, Kamis (13/1/2023).

Kendati demikian, penurunan lebih rendah dari level support tersebut berpeluang memicu aksi jual terhadap harga emas menguji level support selanjutnya US$1.890 per troy ounce.

Mengutip Bloomberg, tingkat inflasi AS yang paling lambat dalam 14 bulan menopang harga komoditas, yang telah menguat minggu ini didukung oleh meningkatnya kepercayaan pada pemulihan China. Harga minyak mentah misalnya menuju kenaikan mingguan sekitar 6 persen.

Permintaan konsumen AS yang tangguh, terutama untuk jasa, dikombinasikan dengan pasar tenaga kerja yang ketat merupakan ancaman signifikan terhadap inflasi. Tetapi angka CPI secara keseluruhan menunjukkan hal-hal yang tampaknya berjalan ke arah yang benar, membuka jalan bagi The Fed untuk menurunkan kenaikan seperempat poin pada pertemuan berikutnya.

Beberapa pejabat AS telah mengisyaratkan keterbukaan untuk menaikkan suku bunga 25 basis poin tepat pada pertemuan mereka berikutnya. Di bagian lain, para pejabat The Fed juga menekankan bahwa Bank Sentral masih memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjinakkan inflasi, dan tidak mengantisipasi penurunan suku bunga tahun ini.

Kepala Manajer Portofolio Winthrop Capital Management Adam Coons menilai terlepas dari sinyal penurunan, The Fed mungkin terus mendorong suku bunga agresif, untuk mengarah ke target inflasi yang melampaui 2 persen.

Pergerakan Harga Emas Hari Ini ke US$1.900, Angin Segar Inflasi AS Read More »

news feed

Harga Emas Bisa Tembus Rp 1,6 Juta/Gram Tahun Depan, Saatnya Borong?

Jakarta – Bank investasi asal Denmark, Saxo Bank, menerbitkan laporan soal prediksi ekonomi 2023. Salah satu yang diprediksi adalah meroketnya harga emas ke level yang sangat tinggi tahun depan.
Dilansir CNBC, Senin (26/12/2022), Saxo Bank juga memprediksi ekonomi global beralih ke mode perang tahun depan. Menekankan berbagai negara mencari keuntungan ekonominya sendiri dan mengutamakan kemandirian produksi dalam negeri daripada perdagangan global.

Berikut Prediksi Ekonomi 2023:

1. Emas Meroket 67%
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen memperkirakan harga emas bisa melebihi US$ 3.000 atau sekitar Rp 46,5 juta (kurs Rp 15.500) per ounce pada 2023.

Dalam hitungan gram, 1 ounce setara 28,35 gram. Artinya, per gramnya emas akan berada di harga Rp 1,6 juta. Jumlah tersebut 67% lebih tinggi dari harga saat ini sekitar US$ 1.797 per ons atau sekitar Rp 982 ribu per gram.

Saxo Bank memperkirakan lonjakan terjadi karena tiga faktor, pertama mentalitas ekonomi perang yang meningkat yang membuat emas lebih menarik daripada cadangan devisa. Kedua, investasi besar dalam prioritas keamanan nasional baru. Ketiga, peningkatan likuiditas global karena pembuat kebijakan mencoba menghindari bencana utang di masing-masing negara.

“Saya tidak akan terkejut melihat ekonomi yang digerakkan oleh komoditas ingin beralih ke emas karena kurangnya alternatif yang lebih baik. Jelas sekali harga emas akan terbang,” kata Steen Jakobsen, kepala investasi di Saxo.


2. Inggris Mau Kembali ke Uni Eropa
Inggris diprediksi akan pikir-pikir untuk kembali masuk ke Uni Eropa. Saxo Bank mengatakan ada kemungkinan Inggris melakukan referendum untuk menghentikan Brexit.

“Saya benar-benar berpikir itu adalah salah satu hal yang kemungkinan besar akan terjadi,” kata Jakobsen.

Ahli Strategi Pasar Saxo Jessica Amir mengatakan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak dan Menteri Keuangannya Jeremy Hunt dapat mengambil peringkat Partai Konservatif ke level terendah yang belum pernah terdengar karena program fiskal brutal mereka melemparkan Inggris ke dalam resesi.

Hal tersebut lah yang diperkirakan dapat mendorong publik Inggris untuk memikirkan kembali pemungutan suara Brexit, dengan pemilih yang lebih muda memimpin, dan memaksa Rishi Sunak untuk mengadakan pemilihan umum.

Amir mengatakan partai oposisi di Inggris, Partai Buruh kemudian dapat memenangkan pemilihan dan menjanjikan referendum untuk membatalkan Brexit pada 1 November, dengan kemenangan suara bergabung kembali dengan Uni Eropa.

Apalagi, bila berdasarkan survei yang dilakukan oleh YouGov pada November menunjukkan 59% dari 6.174 orang yang disurvei berpendapat bahwa Brexit disebut berjalan dengan sangat buruk sejak akhir tahun 2020, sementara hanya 2% yang mengatakan telah berjalan sangat baik.


3. Produksi Daging Dilarang
Daging bertanggung jawab atas 57% emisi dari produksi makanan, menurut penelitian yang diterbitkan oleh Nature Food. Dengan negara-negara di seluruh dunia telah membuat komitmen net-zero, Saxo mengatakan ada kemungkinan setidaknya satu negara dapat menghentikan produksi daging sepenuhnya.

Ahli Strategi Pasar Saxo, Charu Chanana mengatakan akan ada negara yang ingin mengungguli negara lain dalam kredensial iklimnya dapat memutuskan untuk mengenakan pajak daging yang berat mulai tahun 2025 dan dapat melarang semua daging bersumber hewan hidup yang diproduksi di dalam negeri sepenuhnya pada tahun 2030.

Inggris, negara-negara di Uni Eropa, Jepang, dan Kanada termasuk di antara negara-negara dengan ikrar net-zero yang mengikat secara hukum.

Harga Emas Bisa Tembus Rp 1,6 Juta/Gram Tahun Depan, Saatnya Borong? Read More »

news feed

Harga Emas Hari Ini, Selasa 20 Desember 2022, Tertekan Hawkish Bank Sentral

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas hari ini, Selasa (20/12/2022) diprediksi cenderung tertekan risiko kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral, termasuk Federal Reserve atau The Fed.

Monex Investindo Futures dalam laporannya menyebutkan, sinyal hawkish dari para bank sentral utama dan meningkatnya risiko resesi berpeluang membebani harga emas.

“Harga emas berakhir turun US$5,49 di level US$1.787,50 pada hari Senin di tengah pasar yang mencerna sinyal hawkish dari para bank sentral utama dan meningkatnya risiko resesi,” jelas Monex.

Peluang trading pagi ini, harga emas berpeluang dijual untuk menguji level support US$1.780 selama harga tertahan di bawah level resistance US$1.790.

Namun, kenaikan lebih tinggi dari level resistance tersebut berpeluang memicu aksi beli terhadap harga emas menguji level resistance selanjutnya US$1.794. Rentang perdagangan potensial di sesi Asia US$1.780 – US$1.794.

Dolar AS sedikit menguat pada perdagangan Senin (19/12/2022) karena pelaku pasar menilai kemungkinan resesi global di tengah pengetatan kebijakan bank sentral. Mengutip Antara, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,03 persen menjadi 104,7320.

Pasar mencerna sinyal bank-bank sentral yang hawkish dan meningkatnya risiko resesi, terutama karena bank sentral utama termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa mengisyaratkan bahwa suku bunga akan naik lebih jauh tahun depan.

Sementara prospek kenaikan suku bunga yang lebih kecil oleh Fed menguntungkan harga emas dalam beberapa pekan terakhir, masih diperdagangkan turun sekitar satu persen untuk tahun ini.

Harga emas juga jauh di bawah puncak yang dicapai selama awal invasi Rusia ke Ukraina, setelah melepaskan sebagian besar status safe haven-nya terhadap dolar AS.

Dari dalam negeri, harga emas yang dijual di Pegadaian hari ini, Selasa (20/12/2022), terpantau turun dibandingkan dengan harga kemarin untuk cetakan Antam. Namun cetakan UBS terpantau naik.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Pegadaian, harga emas 24 karat Antam ukuran terkecil yakni 0,5 gram dijual seharga Rp573.000, harga ini turun Rp1.000 dibandingkan dengan harga Senin (19/12/2022).

Sementara itu, emas 24 karat UBS dengan ukuran yang sama hari ini masih dibanderol di harga Rp534.000, naik Rp1.000 daripada harga kemarin. Emas Antam 24 karat ukuran 1 gram hari ini dibanderol di Rp1.042.000, sementara emas 24 karat UBS dijual Pegadaian seharga Rp1.001.000.

Harga Emas Hari Ini, Selasa 20 Desember 2022, Tertekan Hawkish Bank Sentral Read More »

news feed

Emas Bersinar Terang di Bawah Cahaya Natal

Di luar status emas sebagai aset safe-haven yang kembali dicari pada pekan lalu, sejarah menunjukkan harga emas memang selalu naik menjelang Natal. Bahkan, di saat dunia masih ditimpa kekhawatiran akibat Covid-19 pada 2021.

Merujuk data Refinitiv, emas biasanya mulai naik pada pekan ketiga Desember. Sepanjang 2012-2021, rata-rata harga emas menguat 0,63% pada perdagangan pekan menjelang Hari Raya Natal.

Dalam kurun waktu 10 tahun tersebut,hanya tiga kali emas melandai pada periode menjelang Natal yakni 2013, 2016, dan pada tahun pertama Pandemi Covid-19 pada 2020.

Pada tujuh tahun lainnya, harga emas bersinar terang. Emas bahkan mampu bersinar tajam pada 2012, 2018, dan 2019.

Pada pekan menjelang Natal 2012, harga emas menguat 0,21% sementara pada 2013 ambruk 1,09%. Sebagai catatan, pada 2013, The Fed mengumumkan akan mengakhiri kebijakan quantitative easingnya dan memulai kebijakan moneter ketat.

Emas kembali menguat pada perdagangan pekan menjelang Natal  2014 yakni sebesar 0,54% dan melesat 2,35 pada periode menjelang Natal 2015.

Sempat melemah pada pekan perdagangan menjelang Natal 2016 yakni 0,44%. Emas terus menguat pada periode 2017-2019 sebelum turun pada 2020. Namun, penurunan emas pada akhir Desember hanya sementara karena emas justru melonjak menjelang awal Januari. Harga emas pada pekan terakhir Desember melonjak 1,1%.

CEO Physical Gold Daniel Fisher menjelaskan kenaikan harga emas menjelang Hari Raya Natal terkait erat dengan tradisi pemberian kado Natal.
Permintaan paling besar biasanya berupa koin emas. Permintaan akan koin emas terbesar datang dari Inggris.

“Beberapa orang ingin mewariskan uang kepada anak-anak atau cucunya tetapi tidak ingin uangnya kehilangan nilai. Mereka kemudian memilih emas sebagai hadiah,” tutur Fisher, dilansir dari qz.com.

Emas Bersinar Terang di Bawah Cahaya Natal Read More »

news feed

Sejarah Membuktikan Harga Emas Naik Jelang Natal, Beli Nih?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas sempat anjlok pada pekan lalu tetapi mulai bangkit kembali. Kenaikan harga emas menjelang Hari raya Natal dan Tahun Baru didukung data historisnya. Dalam 10 tahun terakhir, harga emas hampir selalu menguat menjelang libur  Hari Raya Natal.

Pada perdagangan Senin (19/12/2022) pukul 06: 12 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.793,08 per troy ons. Harga emas menguat 0,04%.

Penguatan hari ini memperpanjang catatan positif emas yang juga menguat pada Jumat pekan lalu. Penguatan tersebut juga memupus kinerja buruk emas yang sempat ambruk 1,9% pada dua hari perdagangan yakni Rabu dan Kamis (14-15/12/2022).

Emas ambruk setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menegaskan jika mereka akan melanjutkan kebijakan hawkishnya pada tahun depan.

Harga emas masih menguat 0,67% secara point to point dalam sepekan. Harga emas juga naik 2,5% dalam sebulan sementara dalam setahun menguat tipis 0,21%.

Analis dari Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan emas mulai menguat lagi karena sang logam mulia kini menjadi aset aman yang minim risiko dibandingkan aset lain seperti saham.

“Permintaan emas kini sedikit naik karena emas menjadi aset safe-haven di tengah banyaknya aksi jual besar-besaran di pasar saham. Pelaku pasar menjual saham setelah bank sentral AS melanjutkan kebijakan hawkishnya,” tutur Wyckoff, dikutip dari Reuters.

Seperti diketahui, indeks S&P 500 merosot 2% dalam sepekan pada pekan lalu. Sepanjang Desember, S&P 500 jeblok 5,6%. Indeks Dow Jones dan Nasdaq juga turun 1,7% dan 2,7% dalam sepekan pada pekan lalu.

Sejarah Membuktikan Harga Emas Naik Jelang Natal, Beli Nih? Read More »

news feed

Harga Emas Hari Ini ketika Indeks Dolar AS sedang dalam Tekanan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas hari ini terangkat pada akhir perdagangan Kamis pagi WIB, didorong oleh dolar AS yang lebih lemah setelah munculnya kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan Federal Reserve dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Mengutip dari Antara, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange menguat 0,88 persen menjadi US$1.798,00 per ounce.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, melemah 0,45 persen menjadi 105,1000 pada Rabu (7/12), setelah beberapa eksekutif bank terbesar AS mengatakan bahwa mereka bersiap untuk ekonomi AS yang memburuk tahun depan.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Rabu bahwa produktivitas tenaga kerja sektor bisnis non-pertanian AS meningkat 0,8 persen pada kuartal ketiga 2022, daripada perkiraan awal 0,3 persen. Data yang lebih baik dari perkiraan membatasi kenaikan emas.

Investor juga menunggu pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve minggu depan. Beberapa investor telah mengantisipasi Fed akan segera memperlambat laju pengetatan suku bunga, tetapi data ketenagakerjaan, industri jasa dan pabrik AS yang lebih kuat baru-baru ini telah menambah ketidakpastian investor atas prospek kebijakan Fed.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga lagi ketika bertemu minggu depan.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 58,7 sen atau 2,63 persen, menjadi ditutup pada 22,922 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari terangkat 16,10 dolar AS atau 1,62 persen, menjadi ditutup pada 1.011,50 dolar AS per ounce.

Harga Emas Hari Ini ketika Indeks Dolar AS sedang dalam Tekanan Read More »

news feed

Ada Santa Claus Rally Harga Emas Bisa Bullish?

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dalam sebulan terakhir terpantau mulai nyaman di zona hijau. Analis memproyeksikan harga emas akan berada pada tren bullish sepanjang Desember tahun ini, terimbas Santa Claus Rally.

Mengutip data Bloomberg per Rabu (7/12/2022), harga emas Comex terpantau naik 1,60 poin atau 0,09 persen ke US$1.784 per ons.

Adapun, harga emas Spot naik 1,31 poin atau 0,07 persen ke US$1.772 per ons. Analis Monex Investindo Futures (MIFX) Anthony Kevin menyebutkan positifnya kinerja pasar saham AS memiliki dampak terhadap kinerja emas selaku instrumen safe haven.

Pada umumnya, pasar saham AS dan emas akan memiliki korelasi negatif. Ketika pasar saham AS sedang bullish, maka harga emas akan turun karena pelaku pasar akan melikuidasi posisinya di instrumen safe haven seperti emas dan mengalihkannya ke instrumen yang lebih berisiko seperti saham.

Sebaliknya, ketika pasar saham AS sedang bearish, maka harga emas akan naik karena pelaku pasar akan melikuidasi posisinya di instrumen yang lebih berisiko seperti saham dan mengalihkannya ke instrumen safe haven seperti emas.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir dari 2017-2021, justru muncul fenomena yang baru. Terlepas dari kinerja pasar saham AS yang masih baik pada bulan Desember, harga emas justru bisa mencatatkan kinerja yang tidak kalah cemerlang.

“Menurut kami, penyebabnya adalah dalam beberapa tahun terakhir perekonomian dunia dihadapkan pada risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya,” paparnya dalam riset, dikutip Rabu (7/12/2022).

Alhasil, wajar jika dalam beberapa tahun terakhir pelaku pasar tidak mau terlalu banyak masuk ke pasar saham pada Desember, walaupun secara historis, Desember merupakan bulan yang seksi untuk bertindak lebih agresif yang menyebabkan Santa Claus Rally, atau reli pada Desember karena optimisme pelaku pasar yang meningkat menjelang tahun yang baru.

“Pasalnya, saat ini banyak sentimen negatif yang menghantui benak mereka, sehingga bisa dimengerti kalau mereka sedikit bermain aman dengan tetap mengincar instrumen safe haven seperti emas,” jelasnya.

Pada akhir tahun ini, ada sentimen yang berpotensi agak menahan kinerja indeks saham AS, yakni pertemuan para pejabat The Federal Reserve selaku bank sentral AS pada 13-14 Desember 2022 waktu setempat.

Sebagai catatan, Pada awal November 2022 The Fed mengesahkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) yang menandai kenaikan sebesar 75 bps selama empat bulan beruntun. Kini, Federal Funds Rate berada di rentang 3,75-4,00 persen yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2008.

Hal ini dilakukan The Fed di tengah banyaknya tekanan dari pelaku pasar yang mendesak Jerome Powell untuk berhenti menaikkan tingkat suku bunga acuan yang berpotensi menghadirkan gelombang resesi.

Di sepanjang tahun 2022, terlihat pertumbuhan ekonomi AS sudah sangat melambat jika dibandingkan dengan tahun 2021 sehingga wajar jika banyak yang memproyeksikan AS akan segera kembali ke jurang resesi, tepatnya pada 2023.

“Kalau ternyata The Fed masih kekeh tancap gas dalam hal normalisasi tingkat suku bunga acuan, harga emas berpotensi ikut terkerek naik pada Desember tahun ini, mengulangi torehan positif dari bulan Desember tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Ada Santa Claus Rally Harga Emas Bisa Bullish? Read More »

news feed

Dolar AS Kompak Bikin Rontok Mata Uang Asia, Rupiah Ditekuk ke Rp 15.650

Jakarta – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih menguat terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam naik 2 poin (0,01%) ke level Rp 15.650.
Dikutip dari data RTI, Senin (21/11/2022), pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di level tertingginya pada Rp 15.667 dan terendahnya Rp 15.631.

Dolar AS juga menguat terhadap mata uang Asia lain, seperti yuan China, yen Jepang, dan dolar Singapura. Penguatan tertinggi dolar AS terjadi pada yuan China sebesar 0,035 poin (0,48%) ke level 7,1/

Sedangkan pergerakan mata uang Paman Sam terhadap yen Jepang bertambah 0,07 poin (0,05%) ke level 140. Selanjutnya, pergerakan dolar AS terhadap dolar Singapura naik 0,0046 poin (0,33%) ke level 1,3.

BI Naikkan Bunga Acuan
Sebagai informasi, BI menaikkan bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Lalu suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4,5% dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini masih tinggi.

“Kemudian untuk memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 3,0±1% lebih awal yaitu ke paruh pertama 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat kuatnya mata uang dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat,” ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis (17/11/2022).

Dolar AS Kompak Bikin Rontok Mata Uang Asia, Rupiah Ditekuk ke Rp 15.650 Read More »

news feed

Ancaman Resesi Global, Bos IMF: Indonesia Lebih Kuat dari Negara Lain

Bisnis.com, JAKARTA — Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai bahwa Indonesia berada dalam posisi yang cenderung kuat untuk menghadapi ancaman resesi global pada tahun depan.

Dia menilai Indonesia akan turut merasakan perlambatan ekonomi, tetapi lebih baik dari negara-negara lain.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam wawancara bersama Kompas TV usai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Rabu (16/11/2022). Kristalina menyebut bahwa KTT G20 Bali berjalan dengan baik dan membawa hasil positif.

Dalam forum itu, dia menyoroti ancaman krisis global yang dapat terjadi tahun depan. Tingginya harga pangan dan energi, serta terus menanjaknya inflasi di banyak negara berisiko menimbulkan resesi global pada 2023.

Meskipun begitu, dia meyakini bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat sehingga mampu menghadapi risiko itu dengan baik. Bahkan, menurut Kristalina, perekonomian Indonesia relatif lebih baik daripada negara-negara lain.

“Saya yakin bahwa Indonesia akan melewati tahun depan dalam posisi yang jauh lebih kuat daripada negara lain. Kami memprediksi untuk 2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,3 persen. Dan untuk tahun depan pertumbuhan akan sedikit lebih lambat menjadi 5 persen. Itu masih dua kali lipat lebih tinggi dari negara-negara lain,” ujar Kristalina seperti dikutip dari Kompas TV, Rabu (16/11/2022).

Dia menyebut bahwa kekuatan perekonomian Indonesia berasal dari reformasi. Hal itu membuat ekonomi Indonesia lebih kompetitif, terbuka untuk investor, dan posisi fiskalnya menjadi sangat baik.

“Indonesia juga diuntungkan secara langsung sebagai pengekspor komoditas ketika krisis meningkat. Di atas itu semua, Indonesia memiliki generasi muda yang dapat memberikan keuntungan besar,” katanya.

Meskipun sudah cukup baik, IMF tetap memperingatkan bahwa ekonomi Indonesia akan terpengaruh oleh perlambatan ekonomi di negara-negara lain. Misanya di Amerika Serikat (AS), China, bahkan Uni Eropa, yang prospek ekonominya melambat.

Perlambatan ekonomi membuat permintaan dari negara-negara mitra dagang itu dapat berkurang, sehingga impor Indonesia berpotensi terdampak. Selain itu, pergerakan nilai tukar pun dapat terdampak oleh kondisi negara-negara raksasa ekonomi, terutama AS dan China.

“Tentunya ini akan berdampak kepada impor Indonesia. Namun, tetap [dampaknya] lebih rendah dari negara-negara lainnya,” ucap Kristalina.

Ancaman Resesi Global, Bos IMF: Indonesia Lebih Kuat dari Negara Lain Read More »

news feed

Pergerakan Harga Emas Hari Ini, 15 November 2022, Landai Imbas The Fed

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas global hari ini berpotensi melemah tertekan oleh lonjakan dolar Amerika Serikat (AS).

Tim riset Monex Investindo Futures mencatat harga emas berhasil naik tipis sebesar US$0,09 menjadi berakhir di level US$1.770,94 per troy ounce pada penutupan perdagangan Senin (14/11/2022). Harga emas masih bertahan naik di tengah penguatan dolar AS yang rebound lantaran komentar anggota The Fed.

“Di sesi Asia hari ini, harga emas berpotensi dijual menguji support US$1.760. Namun jika bergerak naik ke atas level US$1.775 per troy ounce, maka berpeluang dibeli menguji resistance US$1.780,” tulis Monex, Selasa (15/11/2022).

Mengutip Bloomberg, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mempertahankan kenaikannya, dengan tingkat 10 tahun sekitar 3,87 persen setelah pembicara Federal Reserve menyoroti tekad untuk bertahan sampai inflasi kembali turun ke level yang konsisten dengan target 2 persen.

Wakil Ketua Fed Lael Brainard secara singkat mendukung sentimen setelah dia mengatakan akan segera memperlambat laju kenaikan suku bunga.

Adapun China akan terus menjadi sentimen besar di pasar Asia, dengan indikator ekonomi utama yang akan dirilis termasuk penjualan ritel dan produksi industri, serta tingkat fasilitas pinjaman jangka menengah.

Di Wall Street, saham emiten China yang terdaftar di AS memperpanjang reli mereka ke hari ketiga setelah Joe Biden dan Xi Jinping menyerukan pengurangan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia selama pertemuan di Bali, Indonesia.

Pelonggaran beberapa pengendalian virus Covid-19 di China dan langkah-langkah besar untuk mendukung pasar properti telah memberi kepercayaan kepada para pelaku pasar bahwa Beijing akhirnya mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi dua titik masalah besar bagi ekonomi dan pasar.

Pergerakan Harga Emas Hari Ini, 15 November 2022, Landai Imbas The Fed Read More »

news feed
Scroll to Top