Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas global kembali menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026) dan bergerak di atas level US$4.400 per troy ounce. Penguatan terjadi setelah dolar AS dan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau Treasury melemah. Di sisi lain, pelaku pasar masih menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Mengacu pada data perdagangan terbaru, harga emas spot naik lebih dari 1% dan sempat mencapai US$4.434,70 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik sekitar 1,5% menjadi US$4.480,10 per troy ounce.
Penguatan tersebut terjadi setelah harga emas sebelumnya mengalami tekanan dan sempat menyentuh level terendah dalam hampir satu bulan. Pelemahan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Sementara itu, penurunan imbal hasil Treasury mengurangi tekanan terhadap emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga Emas Fisik JFXGOLD X Ikut Menguat
Penguatan harga emas global turut tercermin pada pergerakan harga emas fisik di dalam negeri.
Pada perdagangan Kamis (3/9/2026), harga emas fisik pada platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X naik 2,76% atau sekitar Rp58.000 per gram.
Kenaikan tersebut menunjukkan penguatan harga emas fisik domestik sejalan dengan pergerakan harga emas global. Pergerakan harga emas fisik juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Dengan kembali menguatnya harga emas global ke atas US$4.400 per troy ounce, pasar domestik turut mendapatkan dorongan positif. Namun, volatilitas masih berpotensi tinggi karena pelaku pasar tengah menunggu sejumlah data ekonomi AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian
Perhatian pelaku pasar kini beralih ke laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat (4/9/2026).
Sebelumnya, data ADP menunjukkan perusahaan swasta AS hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sekitar 48.000 pekerjaan. Data tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa momentum pasar tenaga kerja AS mulai melambat.
Namun, data ADP tidak selalu mencerminkan hasil NFP yang dirilis pemerintah AS. Oleh karena itu, pelaku pasar masih menunggu data resmi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.
Jika pertumbuhan pekerjaan dalam laporan NFP lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed berpotensi berubah. Kondisi tersebut dapat menekan dolar AS dan imbal hasil Treasury serta memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.
Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih kuat dapat memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dan kembali memberikan tekanan terhadap harga emas.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Tinggi
Meski harga emas kembali menguat, pelaku pasar belum sepenuhnya mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Data pasar menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di sekitar 62%. Angka tersebut meningkat dari sekitar 37% pada pekan sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga dan meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas.
Di sisi lain, harga minyak yang masih berada di atas US$90 per barel serta ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan tambahan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Emas Masih Berada dalam Fase Volatil
Pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tingginya volatilitas pasar.
Setelah mengalami tekanan akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, harga emas kembali memperoleh momentum ketika dolar AS dan imbal hasil Treasury bergerak turun. Pada perdagangan Kamis, harga emas spot kembali berada di atas US$4.400 per troy ounce.
Dalam jangka pendek, NFP menjadi katalis utama berikutnya. Data pekerjaan yang lebih lemah berpotensi meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan dukungan terhadap harga emas. Sebaliknya, data pekerjaan yang lebih kuat dapat kembali meningkatkan tekanan terhadap logam mulia.
Pergerakan tersebut juga perlu diperhatikan di pasar domestik, termasuk pada harga emas fisik di platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X yang pada perdagangan hari ini (3/9/2026) menguat 2,76% atau sekitar Rp58.000 per gram.
MetalNews Insight
Harga emas kembali menguat, sementara pasar menunggu NFP sebagai penentu arah berikutnya.
Penguatan emas global ke atas US$4.400 per troy ounce turut diikuti kenaikan harga emas fisik JFXGOLD X sebesar 2,76% atau sekitar Rp58.000 per gram.
Namun, pasar masih berada di antara dua sentimen utama, yaitu risiko kenaikan suku bunga The Fed dan potensi pelemahan pasar tenaga kerja AS.
Data NFP pada Jumat (4/9) menjadi penting bukan hanya untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja AS, tetapi juga untuk membaca kembali arah dolar AS, imbal hasil Treasury, ekspektasi suku bunga The Fed, serta momentum harga emas berikutnya.
Akankah NFP menjadi katalis bagi harga emas untuk kembali menuju US$4.500?
Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi METALGO+.
Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.


